Pengendalian Pencemaran Lingkungan

Sebagai pembangkit listrik berbahan bakar batubara pada kegiatan operasionalnya PLTU Tanjung Jati B akan menghasilkan emisi SOX, yang berasal dari kandungan sulfur pada batubara yang digunakan dengan kandungan sulfur sebesar 0,9 – 1%, dan untuk pengendalian emisi SOX, PLTU Tanjung Jati B mengguanakan teknologi FGD (Flue Gas Desulphurization) dengan type wet scrubber dengan menggunakan batukapur (limestone) dan type FGD ini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia.

FGD ini memiliki efisiensi sampai dengan 80% dari SO2 yang terkandung dalam gas buang dengan proses nya adalah: CaCO3 + SO2 + H2O -> CaSO3 + ½ H2O + CO2 (Reaksi Flue Gas dengan Limestone slurry) CaSO3. ½ H2O + O2 + H2O -> CaSO4.2H2O (ReaksiOksidasi). Dari reaksi diatas dan type FGD yang digunakan oleh PLTU Tanjung Jati B untuk mengendalikan emisi SOX.

Batubara yang digunakan oleh PLTU Tanjung Jati B juga memiliki kandungan nitrogen, dan untuk pengendalian NO2, PLTU Tanjung Jati B di design dengan menggunakan LOW NOX burner, sehingga NO2 dari hasil pembakaran batubara dapat dikendalikan.

Dari emisi gas buang akan ada partikulat (debu) yang terikut yang dihasilkan dari pembakaran batubara, dan untuk pengendalian partikulat, PLTU TanjungJati B telah dilengkapi dengan ESP (Electrostatic Precipitator) yang memiliki efisiensi dust removal sampai dengan 99%, sehingga dapat dipastikan emisi partikulat yang keluar melalui stack (cerobong) dapat dijaga dibawah 50 mg/Nm3.

ESP, tepatnya pada discharge electrode (DE) dialiri oleh arus DC tegangan tinggi sehingga menghasilkan medan listrik negatif. Gas buang yang disedot oleh induced draft fandari boiler melewati discharge electrode, dimana partikel abu tersebut menjadi bermuatan negatif karena adanya elektron pada Discharge Electrode. Selanjutnya partikel abu yang bermuatan negatif tersebut ditangkap oleh Collecting Electrode yang bermuatan positif karena ditanahkan. Abu-abu yang menempel pada collecting.

Semua air limbah dari plant masuk keretension basin. Pada retension basin terjadi proses aerasi untuk mencegah terjadinya pengendapan. Dari retension basin, air limbah dipompakan ke pH adjustment tank untuk disesuaikan pHnya (6,8-7,4). Setelahitu air masuk kecoagulation tank dimana disitu diinjeksikan koagulan yang berfungsi untuk mengikat kotoran-kotoran yang terlarut pada air limbah dan terjadi proses koagulasi dan flokulasi. Selanjutnya air masuk keclarifier untuk pemisahan air dengan lumpur-lumpur dan endapan. Air yang telah terbebas dari lumpur dan endapan masuk ke neutralized basin, dan disesuaikan lagi pHnya, dan kemudian dibuang ke outfall. Sludge /lumpur dari Clarifier di transfer ke Dewatering System menggunakan Screw Pump untuk mendapatkan Cake dari proses yang dinamakan Filter Press. Air dari Overflow langsung dibuang menuju saluran outfall dengan tetap memperhatikan kualitas.