Penangkaran Merak Hijau

penangkaran merak

Merak Hijau (Green Peafowl) memiliki nama ilmiah (Pavo muticus) merupakan salah satu burung dari tiga spesies merak. Populasi merak hijau tersebar di hutan terbuka dengan padang rumput di Republik Rakyat Tiongkok, Indocina dan Jawa, Indonesia.

 

Merak Hijau di Indonesia

Di Indonesia, Merak Hijau hanya terdapat di Pulau Jawa. Habitat burung yang mempunyai bulu indah hijau keemasan ini berada di dataran rendah hingga tempat-tempat yang tinggi. Salah satunya yang masih bisa ditemui berada di Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Selain itu diperkirakan juga masih terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Meru Betiri.

Populasi Merak Hijau terus berkurang. Ini diakibatkan oleh rusaknya habitat dan perburuan liar. Burung langka yang indah ini diburu untuk diambil bulunya ataupun diperdagangkan sebagai bintang peliharaan. Untuk menghindari kepunahan burung langka ini dilindungi undang-undang. Di Pulau Jawa kini jumlah Merak Hijau (Pavu muticus) diperkirakan tidak lebih dari 800 ekor.

Keunikan Merak Hijau

Merak Hijau memiliki keunikan bentuk dan tingkah laku. ciri khas yang dimiliki satwa langka tersebut adalah keindahan bulu serta suaranya yang merdu. Merak hijau memiliki ukuran sangat besar dan leher yang panjang, sekilas fauna ini berbentuk seperti ayam. Ciri lain yang mencolok adalah pipinya berwarna kuning, terdapat garis alis, dan penutup telinga sekitarnya berwarna putih kebiruan. Uniknya merak mempunyai mahkota berwarna hijau kebiruan dengan jambul.

Karakteristik Merak Hijau

Burung merak hijau jantan dewasa berukuran sangat besar, panjangnya dapat mencapai 300 cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak. Sementara burung merak hijau betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya kurang mengkilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor. Pada musim berbiak, burung merak jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata. Burung betina menetaskan tiga sampai enam telur

Jumlah Merak Hijau

Jumlah merak hijau saat ini di penangkaran PLTU Tanjung Jati B ada 5 ekor, terdiri 1 burung merak jantan dan 4 burung merak betina.

Penangkaran Rusa

penangkaran rusa

Salah satu program perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati di kawasan PLTU Tanjung Jati B atau Ekowisata adalah penangkaran rusa, rusa jenis timor dengan nama latin Cervus timorensis ini berasal dari penangkaran rusa Udiklat Semarang.

Rusa Timor sering juga disebut rusa Jawa, Dalam bahasa Inggris, rusa timor mempunyai beberapa sebutan seperti Javan Rusa, Javan Deer, Rusa, Rusa Deer, dan Timor Deer. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) binatang ini disebut sebagai Cervus timorensis yang mempunyai beberapa nama sinonim seperti Cervus celebensis (Rorig, 1896), Cervus hippelaphus (G.Q. Cuvier , 1825 ), Cervus lepidus (Sundevall, 1846), Cervus moluccensis (Quoy & Gaimard, 1830), Cervus peronii (Cuvier, 1825), Cervus russa (Muller & Schlegel, 1845), Cervus tavistocki (Lydekker, 1900), Cervus timorensis (Blainville, 1822), dan Cervus tunjuc (Horsfield, 1830).

Melalui websitenya yang diunggah tahun 2010 IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) menyebutkan bahwa populasi rusa timor secara keseluruhan sekitar 10.000 hingga 20.000 ekor dewasa. Berdasarkan jumlah populasi dan persebarannya, rusa timor dimasukkan dalam status konservasi “vulnerable” (Rentan) oleh IUCN Red List.

Anakan rusa timor yang lahir di penangkaran rusa PLTU Tanjung Jati B

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan khususnya hewan langka, PLTU Tanjung Jati B melakukan program perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati di kawasan Pembangkit.  Perkembangan rusa di penangkaran PLTU Tanjung Jati B cukup baik, terbukti dalam waktu tiga tahun jumlah rusa sudah menjadi 18 ekor yang awalnya hanya 9 ekor. Untuk mempermudah dalam mengidentifikasi rusa diberi nama dan kalung.

Aksi Tanam Mangrove PLTU Tanjung Jati B

Sebagai bentuk kepedulian kepada lingkungan, PLN Tanjung Jati B mengadakan kegiatan penanaman 2000 mangrove di Pantai Beringin Desa Bumiharjo, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Rabu (4/7). Acara dihadiri oleh General Manager PT. PLN Tanjung Jati B Komang Parmita, Kepala Bappeda Jepara Sujarot, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Fakhurrohman, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam BKSDA Jawa Tengah Wilayah Pati, Arif Susioko, jajaran Forkopimcam, Kepala Desa Bumiharjo Bambang Budiutomo, dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya General Manager PLN Pembangkitan Tanjung Jati B Komang Parmita mengatakan bahwa penanaman 2000 mangrove ini merupakan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup sedunia tahun 2018 yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2018 dan rupakan bagian dari program PLN menanam 32.000 pohon di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini menunjukkan bukti bahwa PLTU Tanjung Jati B sangat peduli dengan lingkungan khususnya di pesisir sekitar lokasi pembangkit.

Namun kepedulian terhadap lingkungan tidak akan berhasil jika tanpa diikuti oleh rasa memiliki dan partisipasi oleh masyarakat setempat, sehingga dalam kegiatan ini kita melihat semua stakeholder berkumpul bersama disini agar kedepan tanaman mangrove ini bisa kita rawat bersama.

Harapan kami dan kita semua adalah agar taman mangrove ini menjadi pusat konservasi mangrove sebagai salah satu pusat ekosistem mangrove terlengkap dan juga sebagai pusat edukasi mangrove bagi masyarakat.

Sementara itu Kepala Desa Bumiharjo Bambang Budi Utomo menyampaikan terimakasih banyak kepada PLN Tanjung Jati B beserta jajaran yang lain atas diadakannya kegitan ini. ” Pohon mangrove di wilayah Bumiharjo sangat minim sekali jumlahnya, syukur alhamdulillah dari PLN Tanjung Jati B mengadakan kegiatan ini, mudah-mudahan ini bermanfaat baik dari segi ekonomi maupun lingkungan hidup. Untuk rencana kedepan pemerintah desa Bumiharjo akan mengembangkan wisata mangrove, Wisata hutan bahkan wisata lautnya. Kegiatan ini merupakan langkah awal dari pengembangan wisata tersebut.